Home > Berbagi Ilmu > PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI No. PER.01/MEN/1980 TENTANG KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA PADA KONSTRUKSI BANGUNAN

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI No. PER.01/MEN/1980 TENTANG KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA PADA KONSTRUKSI BANGUNAN

PER.01/MEN/1980

PERATURAN
MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI
No. PER.01/MEN/1980
TENTANG
KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA
PADA KONSTRUKSI BANGUNAN
MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI.
Menimbang : a. bahwa kenyataan menunjukan banyak terjadi kecelakaan, akibat belum
ditanganinya pengawasan keselamatan dan kesehatan kerja secara
mantap dan menyeluruh pada pekerjaan konstruksi bangunan, sehingga
karenanya perlu diadakan upaya untuk membina norma perlindungan
kerjanya;
b. bahwa dengan semakin meningkatnya pembangunan dengan
penggunaan teknologi modern, harus diimbangi pula dengan upaya
keselamatan tenaga kerja atau orang lain yang berada di tempat kerja.
c. bahwa sebagai pelaksanaan Undang-undang No. 1 tahun 1970 tentang
Keselamatan kerja, dipandang perlu untuk menetapkan ketentuanketentuan
yang mengatur mengenai keselamatan dan kesehatan kerja
pada pekerjaan Konstruksi Bangunan.
Mengingat : 1. Pasal 10 (a) Undang-undang No. 14 Tahun 1969 tentang ketentuanketentuan
Pokok mengenai Tenaga Kerja.
2. Pasal 2 (2c) dan pasal 4 Undang-undang No. 1 Tahun 1970 tentang
Keselamatan Kerja.
M E M U T U S K A N
Menetapkan : PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI
TENTANG KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA PADA
KONSTRUKSI BANGUNAN.

BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam peraturan ini yang dimaksud dengan:
a. Konstruksi Bangunan ialah kegiatan yang berhubungan dengan seluruh tahapan yang
dilakukan di tempat kerja.
b. Tempat Kerja ialah tempat sebagaimana dimaksud pasal 2 ayat (1) dan ayat (2) huruf
c, k, l, Undang-undang No. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.
c. Direktur ialah Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Perburuhan dan Perlindungan
Tenaga Kerja sebagaimana dimaksud dalam Keputusan Menteri Tenaga Kerja
Transmigrasi dan Koperasi No. Kep. 79/MEN/1977.
d. Pengurus ialah orang atau badan hukum yang bertanggung jawab terhadap pekerjaan
pada konstruksi bangunan secara aman.
e. Perancah (Scaffold) ialah bangunan peralatan (platform) yang dibuat untuk sementara
dan digunakan sebagai penyangga tenaga kerja, bahan-bahan serta alat-alat pada
setiap pekerjaan konstruksi bangunan termasuk pekerjaan pemeliharaan dan
pembongkaran.
f. Gelagar (putlog or bearer) ialah bagian dari perancah untuk tempat meletakan papan
peralatan.
g. Palang penguat, (brace) ialah bagian dari perancah untuk memperkuat dua titik
konstruksi yang berlainan guna mencegah pergeseran konstruksi bangunan perancah
tersebut.
h. Perancah tangga (ladder scaffold) ialah suatu perancah yang mengunakan tangga
sebagai tiang untuk penyangga peralatannya.
i. Perancah kursi gantung (beatswain’s chair) ialah suatu perancah yang berbentuk
tempat duduk yang digantung dengan kabel atau tambang.
j. Perancah dongkrak tangga (ladder jack scaffold) ialah suatu perancah yang peralatannya
mempergunakan dongkrak untuk menaikan dan menurunkannya dan dipasang
pada tangga.
k. Perancah topang jendela (window jack scaffold) ialah suatu perancah yang pelatarannya
dipasang pada balok tumpu yang ditempatkan menjulur dari jendela terbuka.
l. Perancah kuda-kuda (trestle scaffold) ialah suatu perancah yang disangga oleh
kuda-kuda.

Pasal 2
Setiap pekerjaan konstruksj bangunan yang akan dilakukan wajib dilaporkan kepada
Direktur atau Pejabat yang ditunjuknya.
Pasal 3
(1) Pada setiap pekerjaan konstruksi bangunan harus diusahakan pencegahan atau
dikurangi terjadinya kecelakaan atau sakit akibat kerja terhadap tenaga kerjanya.
(2) Sewaktu pekerjaan dimulai harus segera disusun suatu unit keselamatan dan
kesehatan kerja, hal tersebut harus diberitahukan kepada setiap tenaga kerja.
(3) Unit keselamatan dan kesehatan kerja tersebut ayat (2) pasal ini meliputi usaha-usaha
pencegahan terhadap: kecelakaan, kebakaran, peledakan, penyakit akibat kerja,
pertolongan pertama pada kecelakaan dan usaha-usaha penyelamatan.
Pasal 4
Setiap terjadi kecelakaan kerja atau kejadian yang berbahaya harus dilaporkan kepada
Direktur atau Pejabat yang ditunjuknya.

BAB II
TENTANG TEMPAT KERJA DAN ALAT-ALAT KERJA
Pasal 5
(1) Disetiap tempat kerja harus dilengkapi dengan sarana untuk keperluan keluar masuk
dengan aman.
(2) Tempat-tempat kerja, tangga-tangga, lorong-lorong dan gang-gang tempat orang
bekerja atau sering dilalui, harus dilengkapi dengan penerangan yang cukup sesuai
dengan ketentuan yang berlaku.
(3) Semua tempat kerja harus mempunyai ventilasi yang cukup sehingga dapat
mengurangi bahaya debu, uap dan bahaya lainnya.
Pasal 6
Kebersihan dan kerapihan di tempat kerja harus dijaga sehingga bahan-bahan yang
berserakan, bahan-bahan bangunan, peralatan dan alat-alat kerja tidak merintangi atau
menimbulkan kecelakaan.

Pasal 7
Tindakan pencegahan harus dilakukan untuk menjamin bahwa peralatan perancah, alatalat
kerja, bahan-bahan dan benda-benda lainnya tidak dilemparkan, diluncurkan atau
dijatuhkan ke bawah dari tempat yang tinggi sehingga dapat menyebabkan kecelakaan.
Pasal 8
Semua peralatan sisi-sisi lantai yang terbuka, lubang-lubang di lantai yang terbuka,
atap-atap atau panggung yang dapat dimasuki, sisi-sisi tangga yang terbuka, semua
galian-galian dan lubang-lubang yang dianggap berbahaya harus diberi pagar atau tutup
pengaman yang kuat.
Pasal 9
Kebisingan dan getaran di tempat kerja tidak boleh melebihi ketentuan Nilai Ambang
Batas (NAB) yang berlaku.
Pasal 10
Orang yang tidak berkepentingan, dilarang memasuki tempat kerja.
Pasal 11
Tindakan harus dilakukan untuk mencegah bahaya terhadap orang yang disebabkan oleh
runtuhnya bagian yang lemah dari bangunan darurat atau bangunan yang tidak stabil.

BAB III
TENTANG PERANCAH
Pasal 12
Perancah yang sesuai dan aman harus disediakan untuk semua pekerjaan yang tidak dapat
dilakukan dengan aman oleh seseorang yang berdiri di atas konstruksi yang kuat dan
permanen, kecuali apabila pekerjaan tersebut dapat dilakukan dengan aman dengan
mempergunakan tangga.
Pasal 13
(1) Perancah harus diberi lantai papan yang kuat dan rapat sehingga dapat menahan
dengan aman tenaga kerja, peralatan dan bahan yang dipergunakan.
(2) Lantai perancah harus diberi pagar pengaman, apabila tingginya lebih dari 2 meter.
Pasal 14
Jalan-jalan sempit, jalan-jalan dan jalan-jalan landasan (runway) harus dari bahan dan
konstruksi yang kuat, tidak rusak dan aman untuk tujuan pemakaiannya.
Pasal 15
(1) Perancah tiang kayu yang terdiri dari sejumlah tiang kayu dan bagian atasnya
dipasang gelagar sebagai tempat untuk meletakan papan-papan perancah harus diberi
palang pada semua sisinya.
(2) Untuk perancah tiang kayu harus digunakan kayu lurus yang baik.
Pasal 16
(1) Perancah gantung harus terdiri dari angker pengaman, kabel-kabel baja penggan-tung
yang kuat dan sangkar gantung dengan lantai papan yang dilengkapi pagar pengaman.
(2) Keamanan perancah gantung harus diuji tiap hari sebelum digunakan.
(3) Perancah gantung yang digerakan dengan mesin harus mengunakan kabel baja.
Pasal 17
Perancah tupang sudut (outrigger cantilever) atau perancah tupang siku (jib scaffold),
hanya boleh digunakan oleh tukanng kayu, tukang cat, tukang listrik, dan tukang-tukang
lainnya yang sejenis, dan dilarang menggunakan panggung perancah tersebut untuk
keperluan menempatkan sejumlah bahan-bahan.
Pasal 18
(1) Tangga yang digunakan sebagai kaki perancah harus dengan konstruksi yang kuat dan
dengan letak yang sempurna. Perancah tangga hanya boleh digunakan untuk
pekerjaan ringan.
(2) Dilarang menggunakan perancah jenis dongkrak tangga (ledder jack) untuk pekerjaan
pada permukaan yang tinggi.
(3) Perancah kuda-kuda hanya boleh digunakan sewaktu bekerja pada permukaan rendah
dan jangka waktu pendek.
(4) Perancah siku dengan penunjang (bracket scaffold) harus dijangkarkan ke dalam
dinding dan diperhitungkan untuk dapat menahan muatan maksimum pada sisi luar
dari lantai peralatan.
(5) Perancah persegi (square scaffold) harus dibuat secara teliti untuk menjamin
kestabilan perancah tersebut.
Pasal 19
Perancah tupang jendela hanya boleh digunakan untuk pekerjaan-pekerjaan ringan
dengan jangka waktu pendek dan hanya untuk melalui jendela terbuka dimana perancah
jenis tersebut ditempatkan.
Pasal 20
Tindakan pencegahan harus dilakukan agar dapat dihindarkan pembebanan lebih terhadap
lantai perancah yang digunakan untuk truck membuang sampah.
Pasal 21
Perancah pada pipa logam harus terdiri dari kaki, gelagar palang dan pipa penghubung
dengan ikatan yang kuat, dan pemasangan pipa-pipa tersebut harus kuat dan dilindungi
terhadap karat dan cacat-cacat lainnya.
Pasal 22
Perancah beroda yang dapat dipindah-pindahkan (mobile scaffold) harus dibuat sedemikian
rupa sehingga perancah tidak memutar waktu dipakai.
Pasal 23
Perancah kursi gantung dan alat-alat sejenisnya hanya digunakan sebagai perancah dalam
hal pengecualian yaitu apabila pekerjaan tidak dapat dilakukan secara aman dengan
menggunakan alat-alat lainnya.
Pasal 24
Truck dengan perancah bak (serial basket trucks) harus dibuat dan digunakan sedemikian
rupa sehingga tetap stabil dalam semua kedudukan dan semua gerakan.

BAB IV
TENTANG TANGGA DAN TANGGA RUMAH
Pasal 25
(1) Tangga harus terdiri dari 2 kaki tangga dan sejumlah anak tangga yang dipasang pada
kedua kaki tangga dengan kuat.
(2) Tangga harus dibuat, dipelihara dan digunakan sebaik-baiknya sehingga dapat
menjamin keselamatan tenaga kerja.
Pasal 26
(1) Tangga yang dapat dipindah-pindahkan (portable stepledders) dan tangga kuda-kuda
yang dapat dipindah-pindahkan, panjangnya tidak boleh lebih dari 6 meter dan
pengembangan antara kaki depan dan kaki belakang harus diperkuat dengan
pengaman.
(2) Tangga bersambung dan tangga mekanik, panjangnya tidak boleh lebih dari 15 meter.
(3) Tangga tetap harus terbuat dari bahan yang tahan terhadap cuaca dan kondisi lainnya,
yang panjangnya tidak boleh lebih dari 9 meter.
Pasal 27
Tangga rumah harus dibuat sedemikian rupa sehingga dapat menahan dengan aman beban
yang harus dibawa melalui tangga tersebut, dan harus cukup lebar untuk pema-kaiannya
secara aman.
BAB V
TENTANG ALAT-ALAT ANGKAT
Pasal 28
Alat-alat angkat harus direncanakan dipasang, dilayani dan dipelihara sedemikian rupa
sehingga terjamin keselamatan dalam pemakaiannya.
Pasal 29
Poros penggerak, mesin-mesin, kabel-kabel baja dan pelataran dari semua alat-alat angkat
harus direncanakan sedemikian rupa sehingga tidak terjadi kecelakaan karena terjepit,
muatan lebih kerusakan mesin atau putusnya kabel baja pengangkat.

Pasal 30
(1) Setiap kran angkat harus dibuat dan dipelihara sedemikian rupa sehingga setelah
diperhitungkan besarnya, pengaruhnya, kondisinya, ragamnya muatan dan kekuatan,
perimbangan dari setiap bagian peralatan bantu yang terpasang, maka tegangan
maksimum yang terjadi harus lebih kecil dari tegangan maksimum yang diijinkan dan
harus ada keseimbangan sehingga dapat berfungsi tanpa melalui batas-batas
pemuaian, pelenturan, getaran, puntiran dan tanpa terjadi kerusakan sebelum batas
waktunya.
(2) Setiap kran angkat yang tidak direncanakan untuk mengangkut muatan kerja
maksimum yang diijinkan pada semua posisi yang dapat dicapai, harus mempunyai
petunjuk radius muatan dan petunjuk tersebut harus dipelihara agar selalu bekerja
dengan baik.
(3) Derek (Derricks) harus direncanakan dan dibangun sedemikian rupa sehingga terjamin
kestabilannya waktu bekerja.
(4) Kaki rangka yang berbentuk segitiga harus dari bahan yang memenuhi syarat dan
dibangun sedemikian rupa sehinga terjamin keamanannya waktu menggangkat beban
maksimum.
Pasal 31
Tindakan pencegahan harus dilakukan untuk melarang orang memasuki daerah lintas
keran jalan (travelling crane) untuk menghindarkan kecelakaan karena terhimpit.
Pasal 32
Pesawat-pesawat angkat monoril harus dilengkapi sakelar pembatas untuk menjamin agar
perjalanan naik dan peralatan angkat (lifting device) harus berhenti dijarak yang aman
pada posisi atas.
Pasal 33
Tiang derek (gin pales) harus dari bahan yang kuat dan harus dijangkarkan dan diperkuat
dengan kabel.
Pasal 34
Semua bagian-bagian dari kerekan (winches) harus direncanakan dan dibuat dapat
menahan tekanan beban maksimum dengan aman dan tidak merusak kabel atau tambang.

Pasal 35
(1) Penggunaan dongkrak harus pada posisi yang aman sehingga tidak memutar atau
pindah tempat.
(2) Dongkrak harus dilengkapi dengan peralatan yang effektif untuk mencegah agar tidak
melebihi posisi maksimum (over travel).

BAB VI
TENTANG KABEL BAJA, TAMBANG, RANTAI DAN
PERALATAN BANTU
Pasal 36
(1) Semua tambang, rantai dan peralatan bantunya yang digunakan untuk mengang-kat,
menurunkan atau menggantungkan harus terbuat dari bahan yang baik dan kuat dan
harus diperiksa dan diuji secara berkala untuk menjamin bahwa tambang, rantai dan
peralatan bantu tersebut kuat untuk menahan beban maksimum yang diijinkan dengan
faktor keamanan yang mencukupi.
(2) Kabel baja harus digunakan dan dirawat sedemikian rupa sehingga tidak cacat karena
membelit, berkarat, kawat putus dan cacat lainnya.
Pasal 37
Bantalan yang sesuai harus digunakan untuk mencegah agar tambang tidak menyentuh
permukaan, pinggir atau sudut yang tajam atau sentuhan lainnya yang dapat mengakibatkan
rusaknya tambang tersebut.
Pasal 38
(1) Rantai-rantai harus dibersihkan dan harus dilakukan pemeriksaan berkala, untuk
mengetahui adanya cacat, retak, rengat atau cacat-cacat lainnya.
(2) rantai-rantai yang cacat dilarang untuk dipergunakan.
Pasal 39
(1) Beban maksimum yang diijinkan harus dikurangi apabila (sling) digunakan pada
bermacam-macam sudut.
(2) Pengurangan tersebut ayat (1) di atas harus dihitung kekuatannya dan beban
maksimum yang diijinkan yang telah dihitung tersebut harus diketahui betul oleh
tenaga kerja.

Pasal 40
Blok ckara (putty block) harus direncanakan dibuat dan dipelihara dengan baik sehingga
tegangannya sekecil mungkin dan tidak merusak kabel atau tambang.
Pasal 41
Kaitan (hooks) dan Pengunci (scackles) harus dibuat sedemikian rupa sehingga beban
tidak lepas.

BAB VII
TENTANG MESIN-MESIN
Pasal 42
(1) Mesin-mesin yang digunakan harus dipasang dan dilengkapi dengan alat penga-man
untuk menjamin keselamatan kerja.
(2) Alat-alat pengaman tersebut ayat (1) di atas harus terpasang sewaktu mesin
dijalankan.
Pasal 43
(1) Mesin harus dihentikan untuk pemeriksaan dan perbaikan pada tenggang waktu yang
sesuai dengan petunjuk pabriknya.
(2) Tindakan pencegahan harus dilakukan untuk menghindarkan terjadinya kecela-kaan
karena mesin bergerak secara tiba-tiba.
Pasal 44
Operator mesin harus terlatih untuk pekerjaannya dan harus mengetahui peraturan
keselamatan kerja untuk mesin tersebut.

BAB VII
TENTANG PERALATAN KONSTRUKSI BANGUNAN
Pasal 45
(1) Alat-alat penggalian tanah yang digunakan harus dipelihara dengan baik sehingga
terjamin keselamatan dan kesehatan dalam pemakaiannya.
(2) Tindakan pencegahan harus dilakukan untuk menjamin kestabilan mesin penggali
tanah (power shevel) dan harus diusahakan agar orang yang tidak berkepentingan
dilarang masuk ketempat kerja yang terdapat bahaya kejatuhan benda.

Pasal 46
Sebelum meninggalkan bulldpzer atau scraper, operator harus melakukan tindakan pencegahan
yang perlu untuk menjamin agar mesin-mesin tersebut tidak bergerak.
Pasal 47
Perlengkapan instansi pengolahan aspal harus direncanakan, dibuat dan dilengkapi
dengan alat-alat pengaman dan dijalankan serta dipelihara dengan baik untuk menjamin
agar tidak ada orang, yang mendapat kecelakaan oleh bahan-bahan panas, api terbuka,
uap dan debu yang berbahaya.
Pasal 48
(1) Tindakan pencegahan harus dilakukan untuk menjamin agar kestabilan tanah tidak
membahayakan sewaktu mesin penggiling jalan digunakan.
(2) Sebelum meninggalkan mesin penggiling jalan operator harus melakukan segala
tindakan untuk menjamin agar mesin penggiling jalan tersebut tidak bergerak atau
pindah tempat.
Pasal 49
Mesin adukan beton (concrete mixer) yang digunakan harus dilengkapi dengan alat-alat
pengaman dan dijalankan serta dipelihara untuk menjamin agar tidak ada orang yang
mendapat kecelakaan disebabkan bagian-bagian mesin yang berputar atau bergerak atau
boleh karena kejatuhan bahan-bahan.
Pasal 50
Mesin pemuat (loading machines) harus dilengkapi dengan kap (cab) yang kuat dan
dilengkapi dengan alat pengaman sehingga tenaga kerja tidak tergencet oleh bagianbagian
mesin yang bergerak.
Pasal 51
Mesin-mesin pekerjaan kayu yang digunakan harus dipelihara dengan baik sehingga
terjamin keselamatan dan kesehatan dalam pemakaiannya.

Pasal 52
(1) Gergaji bundar harus dilengkapi dengan alat-alat untuk mencegah bahaya sing-gung
dengan mata gergaji dan alat pencegah bahaya tendangan belakang, terkena serpihan
yang berterbangan atau mata gergaji yang patah.
(2) Tindakan pencegahan harus dilakukan agar daun gergaji bundar tidak terjepit atau
mendapat tekanan dari samping.
Pasal 53
Daun gergaji pita harus dengan tegangan, dudukan dan ketajaman yang memenuhi syarat
dan harus tertutup kecuali bukan yang perlu untuk menggergaji.
Pasal 54
Mesin ketam harus dilengkapi dengan peralatan yang baik untuk mengurangi bidang
bukan serut yang membahayakan dan untuk mengurangi bahaya tendangan belakang.
Pasal 55
(1) Alat-alat kerja tangan harus dari mutu yang cukup baik dan harus dijaga supaya selalu
dalam keadaan baik.
(2) Penyimpanan dan pengangkutan alat-alat tajam harus dilakukan sedemikian rupa
sehingga tidak membahayakan.
(3) Perencanaan dan pembuatan alat-alat kerja tangan harus cocok untuk keperluan-nya
dan tidak menyebabkan terjadinya kecelakaan.
(4) Alat-alat kerja tangan boleh digunakan khusus untuk keperluannya yang telah
direncanakan.
Pasal 56
Semua bagian-bagian alat-alat peneumatik termasuk selang-selang dan selang sambungan
harus direncanakan untuk dapat menahan dengan aman tekanan kerja maksimum dan
harus dilayani dengan hati-hati sehingga tidak merusak atau menimbulkan kecelakaan.
Pasal 57
(1) Alat penembak paku (pawder actuated tools) harus dilengkapi dengan alat penga-man
untuk melindungi atau menahan pantulan kembali dari paku dan benda-benda yang
ditembakkan oleh alat tersebut.
(2) Untuk keperluan alat tersebut ayat (1) di atas harus dipergunakan patrum (cartridge)
dan paku tembak (projectile) yang cocok.
(3) Operator yang menggunakan alat tersebut ayat (1) harus berumur paling sedikit 18
tahun dan terlatih.
(4) Penyimpanan dan pengangkutan alat penembak paku dan patrum harus sedemi-kian
rupa untuk mencegah kecelakaan.
Pasal 58
(1) Traktor dan truck yang digunakan harus dipelihara sedemikian rupa untuk menja-min
agar dapat menahan tekanan dan muatan maksimum yang diijinkan dan dapat
dikemudikan serta direm dengan aman dalam situasi bagaimananapun juga.
(2) Traktor dan truck tersebut ayat (1) pasal ini hanya boleh dijalankan oleh penge-mudi
yang terlatih.
Pasal 59
Truck lif (lift truck) yang digunakan harus dijalankan sedemikian rupa untuk menjamin
kestabilannya.

BAB IX
TENTANG KONSTRUKSI DI BAWAH TANAH
Pasal 60
Setiap tenaga kerja dilarang memasuki konstruksi bangunan di bawah tanah kecuali
tempat kerja telah diperiksa dan bebas dari bahaya-bahaya kejatuhan benda, peledakan,
uap, debu, gas atau radiasi yang berbahaya.
Pasal 61
(1) Apabila bekerja dalam terowongan, usaha pencegahan harus dilakukan untuk
menghindarkan jatuhnya orang atau bahan atau kecelakaan lainnya.
(2) Terowongan harus cukup penerangan dan dilengkapi dengan jalan keluar yang aman
direncanakan dan dibangun sedemikian rupa sehingga dalam keadaan darurat
terowongan harus segera dapat dikosongkan.

Pasal 62
Apabila terdapat kemungkinan bahaya runtuhnya batu atau tanah dari atas sisi konstruksi
bangunan di bawah tanah, maka konstruksi tersebut harus segera diperkuat.
Pasal 63
Untuk mencegah bahaya kecelakaan, penyakit akibat kerja maupun keadaan yang tidak
nyaman, konstruksi di bawah tanah harus dilengkapi dengan ventilasi buatan yang cukup.
Pasal 64
(1) Pada Konstruksi bangunan di bawah tanah harus disediakan sarana penanggulang-an
bahaya kebakaran.
(2) Untuk keperluan ketentuan ayat (1) di atas, harus disediakan alat pemberantas
kebakaran.
Pasal 65
(1) Di tempat kerja atau di tempat yang selalu harus disediakan penerangan yang cukup
sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
(2) Penerangan darurat harus disediakan di tempat-tempat tersebut ayat (1) di atas tenaga
kerja dapat menyelamatkan diri dalam keadaan darurat.
Pasal 66
(1) Tenaga kerja yang mengebor tanah harus dilindungi dari bahaya kejatuhan benda
benda, bahaya debu, uap, gas, kebisingan dan getaran.
(2) Tenaga kerja dilarang masuk ke tempat dimana kadar debunya melebihi ketentu nilai
ambang batas yang berlaku, kecuali apabila mereka memakai respirator.

BAB X
TENTANG PENGGALIAN
Pasal 67
(1) Setiap pekerjaan, harus dilakukan sedemikian rupa sehingga terjamin tidak adanya
bahaya terhadap setiap orang yang disebabkan oleb kejatuhan tanah, batu atau bahanbahan
lainnya yang terdapat di pinggir atau di dekat pekerjaan galian.
(2) Pinggir-pinggir dan dinding-dinding pekerjaan galian harus diberi pengaman
penunjang yang kuat untuk menjamin keselamatan orang yang bekerja di dalam
lubang atau parit.
(3) Setiap tenaga kerja yang bekerja dalam lubang galian harus dijamin pula keselamatannya
dari bahaya lain selain tersebut ayat (1) dan (2) di atas.

BAB XI
TENTANG PEKERJAAN MEMANCANG
Pasal 68
(1) Mesin pancang yang digunakan harus dipasang dan dirawat dengan baik sehingga
terjamin keselamatan dalam pemakaiannya.
(2) Mesin pancang dan peralatan yang dipakai harus diperiksa dengan teliti secara berkala
dan tidak boleh digunakan kecuali sudah terjamin keamanannya.
Pasal 69
Tenaga kerja yang tidak bertugas menjalankan mesin pancang dilarang berada disekitar
mesin pancang yang sedang dijalankan.
Pasal 70
Mesin pancang jenis terapung (floating pile drivers) yang digunakan harus dilengkapi
pengaman dan dijalankan sedemikian rupa sehingga stabil atau tidak tenggelam.
Pasal 71
Tindakan pencegahan harus dilakukan untuk menghindarkan agar supaya pelat penahan
(sheet piling) tidak berayun atau berputar yang tidak terkendalikan oleh tekanan angin,
roboh oleh tekanan air atau tekanan lainnya.

BAB XII
TENTANG PEKERJAAN BETON
Pasal 72
Pembangunan konstruksi beton harus direncanakan dan dihitung dengan teliti untuk
menjamin agar konstruksi dan penguatnya dapat memikul beban dan tekanan lainnya

sewaktu membangun tiap-tiap bagiannya.
Pasal 73
(1) Usaha pencegahan yang praktis harus dilakukan untuk menghindarkan terjadinya
kecelakaan tenaga kerja selama melakukan pekerjaan persiapan, dan pem-bangunan
konstruksi beton.
(2) Pencegahan kecelakaan dimaksud ayat (1) pasal ini terutama adalah:
a. singgungan langsung kulit terhadap semen dan dapur;
b. kejatuhan benda-benda dan bahan-bahan yang diangkut dengan ember adukan
beton (concrete buckets);
c. sewaktu beton dipompa atau dicor pipa-pipa termasuk penghubung atau
sambungan dan penguat harus kuat;
d. sewaktu pembekuan adukan (setting concrete) harus terhindar dari goncangan dan
bahan kimia yang dapat mengurangi kekuatan;
e. sewaktu lempengan (panel) atau lembaran beton (slab) dipasang ke dalam
dudukannya harus digerakan dengan hati-hati.
f. terhadap melecutnya ujung besi beton yang mencuat sewaktu ditekan atau
diregang dan sewaktu diangkat atau diangkut;
g. terhadap getaran sewaktu menjalankan alat penggetar (vibrator).
Pasal 74
Setiap ujung-ujung mencuat yang membahayakan harus dilengkungkan atau dilindungi.
Pasal 75
Menara atau tiang yang dipergunakan untuk mengangkat adukan beton (concrete bucket
towers) harus dibangun dan diperkuat sedemikian rupa sehingga terjamin kestabilannya.
Pasal 76
Beton harus dikerjakan dengan hati-hati untuk menjamin agar pemetian beton (bekisting)
dan penguatnya dapat memikul atau menahan seluruh beban sampai beton menjadi beku.

BAB XIII
TENTANG PEKERJAAN LAINNYA
Pasal 77
Bagian-bagian yang siap dipasang (prefabricated parts) harus direncanakan dan dibuat
dengan baik sehingga dapat diangkut dan dipasang dengan aman
Pasal 78
(1) Bagian-bagian konstruksi baja sedapat mungkin harus dirakit sebelum dipasang.
(2) Selama pekerjaan pembangunan konstruksi baja, harus dilakukan tindakan pencegahan
bahaya jatuh atau kejatuhan benda terhadap tenaga kerja.
Pasal 79
Bagian atas dari lantai sumuran harus tertutup papan atau harus dilengkapi dengan
peralatan lain untuk melindungi tenaga kerja terhadap kejatuhan benda.
Pasal 80
Pemasangan rangka atap harus dilakukan dari peralatan perancah atau tenaga kerja harus
dilengkapi dengan peralatan pengaman lainnya.
Pasal 81
Untuk melindungi tenaga kerja sewaktu melakukan pekerjaan konstruksi, harus dibuatkan
lantai kerja sementara yang kuat.
Pasal 82
Alat pemanas yang digunakan untuk memanaskan aspal harus direncanakan, dibuat dan
digunakan sedemikian rupa sehingga dapat mencegah kebakaran dan tenaga kerja tidak
tersiram bahan panas.
Pasal 83
(1) Tenaga kerja harus dilindungi terhadap bahaya singgungan langsung kulit dan
bahaya-bahaya singgung lainnya terhadap bahan pengawet kayu.
(2) Kayu yang telah diawetkan dilarang dibakar di tempat kerja.
Pasal 84
Apabila bahan-bahan yang mudah terbakar digunakan untuk keperluan lantai permukaan
dinding dan pekerjaan-pekerjaan lainnya, harus dilakukan tindakan pencegahan untuk
menghindarkan adanya api terbuka, bunga api dan sumber-sumber api lainnya yang dapat
menyulut uap yang mudah terbakar yang timbul di tempat kerja atau daerah sekitarnya.
Pasal 85
(1) Asbes hanya boleh digunakan apabila bahan lainnya yang kurang berbahaya tidak
tersedia.
(2) Apabila asbes digunakan, maka tindakan pencegahan harus dilakukan agar tenaga
kerja tidak menghirup serat asbes.
Pasal 86
Tenaga kerja yang melakukan pekerjaan di atas atap harus dilengkapi dengan alat
pelindung diri yang sesuai untuk menjamin agar mereka tidak jatuh dari atap atau dari
bagian-bagian atap yang rapuh.
Pasal 87
(1) Dalam pekerjaan mengecat dilarang menggunakan bahan cat, pernis dan zat warna
yang berbahaya, atau pelarut yang berbahaya.
(2) Tindakan pencegahan harus dilakukan agar tukang cat tidak menghirup uap, gas, asap
dan debu yang berbahaya.
(3) Apabila digunakan bahan cat yang mengandung zat yang dapat meresap ke dalam
kulit, tukang cat harus menggunakan alat pelindung diri.
Pasal 88
(1) Tindakan pencegahan harus dilakukan untuk menghindarkan timbulnya kebakaran
sewaktu mengelas dan memotong dengan las busur.
(2) Juru las dan tenaga kerja yang berada disekitarnya harus dilindungi terhadap serpihan
bunga api, uap radiasi dan sinar berbahaya lainnya.
(3) Penggunaan dan pemeliharaan peralatan las harus dilakukan dengan baik untuk
menjamin keselamatan dan kesehatan juru las dan tenaga kerja yang berada
disekitarnya.
Pasal 89
(1) Untuk menjamin keselamatan dalam pekerjaan peledakan (blasting) harus dilaku-kan
tindakan pencegahan kecelakaan.
(2) Tindakan pencegahan dimaksud ayat (1) pasal ini terutama adalah:
a. sewaktu peledakan dilakukan sedapat mungkm jumlah orang yang berada di
sekitarnya hanya sedikit dan cuaca serta kondisi lainnya tidak berbahaya
b. lubang peledakan harus dibor dan diisi bahan peledak dengan hati-hati untuk
menghindarkan salah peledakan atau peledakan secara tiba-tiba waktu pengisian.
c. peledakan harus dilakukan dengan segera setelah pengisian dan peledakan
tersebut harus dilakukan sedemikian rupa untuk mencegah salah satu peledakan
atau terjadinya peledakan-peledakan sebagian;
d. sumbu-sumbu dari mutu yang baik dan dipergunakan sedemikian rupa untuk
menjamin peledakan dengan aman;
e. menghindarkan peledakan mendadak jika peledakan dilakukan dengan tenaga
listrik;
f. tenaga kerja dilarang memasuki daerah peledakan sesudah terjadinya peledakan
kecuali apabila telah diperiksa dan dinyatakan aman.
Pasal 90
Untuk menjamin kesehatan tenaga kerja yang mengolah batu agar tidak menghisap debu
silikat, harus dilakukan tindakan pencegahan.

BAB XIV
TENTANG PEMBONGKARAN
Pasal 91
(1) Rencana pekerjaan pengangkutan harus ditetapkan terlebih dahulu sebelum peker-jaan
pembongkaran dimulai.
(2) Semua instalasi, listrik, gas, air, dan uap harus dimatikan, kecuali apabila diperlu-kan
sepanjang tidak membahayakan.
Pasal 92
(1) Semua bagian-bagian kaca, bagian-bagian yang lepas, bagian-bagian yang men-cuat
harus disingkirkan sebelum pekerjaan pembongkaran dimulai.
(2) Pekerjaan pembongkaran harus dilakukan tingkat demi tingkat dimulai dari atap dan
seterusnya ke bawah.
(3) Tindakan-tindakan pencegahan harus dilakukan untuk menghindarkan bahaya
rubuhnya bangunan.
Pasal 93
(1) Alat mekanik untuk pembongkaran harus direncanakan, dibuat dan digunakan
sedemikian rupa sehingga terjamin keselamatan operatornya.
(2) Sewaktu alat mekanik untuk pembongkaran digunakan, terlebih dahulu harus ditetapkan
daerah berbahaya dimana tenaga kerja dilarang berada.
Pasal 94
Dalam hal tenaga kerja atau orang lain mungkin tertimpa bahaya yang disebabkan oleh
kejatuhan bahan atau benda dari tempat kerja yang lebih tinggi, harus dilengkapi dengan
penadah yang kuat atau daerah berbahaya tersebut harus dipagar.
Pasal 95
(1) Dinding-dinding tidak boleh dirubuhkan kecuali lantai dapat menahan tekanan yang
diakibatkan oleh runtuhnya dinding tersebut.
(2) Tenaga kerja harus dilindungi terhadap debu dan pecahan-pecahan yang
berhamburan.
Pasal 96
(1) Apabila tenaga kerja sedang membongkar lantai harus tersedia papan yang kuat yang
ditumpu tersendiri bebas dari lantai yang sedang dibongkar.
(2) Tenaga kerja dilarang melakukan pekerjaan di daerah bawah lantai yang sedang
dibongkar dan daerah tersebut harus dipagar.
Pasal 97
Konstruksi baja harus dibongkar bagian demi bagian sedemikian rupa sehingga terjamin
kestabilan konstruksi tersebut agar tidak membahayakan sewaktu dilepas.
Pasal 98
Tindakan pencegahan harus dilakukan untuk menjamin agar tenaga kerja dan orang-orang
lain tidak kejatuhan bahan-bahan atau benda-benda dari atas sewaktu cerobong-cerobong
yang tinggi dirubuhkan.

BAB XV
TENTANG PENGGUNAAN PERLENGKAPAN
PENYELAMATAN DAN PERLINDUNGAN DIRI
Pasal 99
(1) Alat-alat penyelamat dan pelindung diri yang jenisnya disesuaikan dengan sifat
pekerjaan yang dilakukan oleh masing-masing tenaga kerja harus disediakan dalam
jumlah yang cukup.
(2) Alat-alat termaksud pada ayat (1) pasal ini harus selalu memenuhi syarat-syarat
keselamatan dan kesehatan kerja yang telah ditentukan.
(3) Alat-alat tersebut ayat (1) pasal ini harus digunakan sesuai dengan kegunaannya oleh
setiap tenaga kerja dan orang lain yang memasuki tempat kerja.
(4) Tenaga kerja dan orang lain yang memasuki tempat kerja diwajibkan mengguna-kan
alat-alat termaksud pada ayat (1) pasal ini.

BAB XVI
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 100
Setiap pekerjaan konstruksi bangunan yang sedang direncanakan atau sedang dilaksanakan
wajib diadakan penyesuaian dengan ketentuan Peraturan Menteri ini.

BAB XVII
KETENTUAN LAIN-LAIN
Pasal 101
Terhadap pengertian istilah-istilah “cukup”, “sesuai”, “baik”, “aman”, “tertentu”,
“sejauh…, sedemikian rupa” yang terdapat dalam Peraturan Menteri ini harus sesuai
dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku atau ditentukan oleh Direktur atau
pejabat yang ditunjuknya.
Pasal 102
Pengurus wajib melaksanakan untuk ditaatinya semua ketentuan dalam Peraturan Menteri
ini.

BAB XVIII
KETENTUAN HUKUMAN
Pasal 103
(1) Dipidana selama-lamanya 3 (tiga) bulan atau denda setinggi-tingginya Rp. 100.000,-
(seratus ribu rupiah), pengurus yang melakukan pelanggaran atas keten-tuan pasal
102.
(2) Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Menteri ini adalah
pelanggaran.
(3) Menteri dapat meminta Menteri yang membawahi bidang usaha konstruksi bangunan
guna mengambil sanksi administratif terhadap tidak dipenuhinya keten-tuan atau
ketentuan-ketentuan Peraturan Menteri ini.

BAB XIX
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 104
Pegawai Pengawas Keselamatan dan Kesehatan Kerja sebagaimana dimaksud dalam
Undang-undang No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja melakukan pengawasan
terhadap ditaatinya Pelaksanaan peraturan ini.
Pasal 105
(1) Hal-hal yang belum cukup diatur dalam Peraturan Menteri ini akan diatur lebih lanjut.
(2) Hal-hal yang memerlukan peraturan pelaksanaan dari Peraturan Menteri ini akan
ditetapkan lebih lanjut oleh Direktur.
Pasal 106
Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.
Ditetapkan di Jakarta
Pada tanggal 6 Maret 1980

MENTERI
TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI
REPUBLIK INDONESIA
ttd.
HARUN ZAIN

Categories: Berbagi Ilmu
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: